Buku Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil

Manfaat Berbicara Pada Janin Sejak Dalam Kandungan

Perlukah mengajak janin berbicara sejak masih di dalam kandungan? -

Berkomunikasi atau mengajak janin berbicara memang sangat penting, karena melalui komunikasi itulah janin akan semakin mengenal siapa ibunya. Hubungan batin antara ibu dengan calon anaknya itu dapat terbentuk semakin dalam melalui komunikasi yang dilakukan sejak dini.

Saat ibu dapat membangun hubungan dengan janin dalam kandungannya, maka kelak ia akan mampu memperbaiki kondisi emosional alamiah dari janin itu sendiri. Ini juga kelak akan dapat mempengaruhi kecerdasan otaknya.

(Silakan baca yang ini: Panduan Lengkap Untuk Ibu Hamil dari dr. Riyani Limoa, SpOG).

Berbicara dengan janin dalam kandungan dapat merangsang tumbuh kembang kecerdasan otaknya dan juga merangsang kecerdasan emosionalnya. Hal tersebut terjadi karena janin dan ibu berada dalam satu tubuh yang sama.

Selain dapat merangsang perkembangan otak buah hati, berkomunikasi dengan cara berbicara dengan janin juga dapat meningkatkan hormon yang dapat membuat sang ibu selalu merasakan kebahagiaan.

Ketika Anda berhasil melakukan komunikasi dengan janin, maka peredaran darah yang mengalir dalam tubuh akan menjadi sangat lancar. Alhasil, perkembangan janin dalam kandungan akan sangat baik dan saat terlahir pun bayi tersebut akan menjadi bayi yang sehat.

Banyak dokter spesialis kandungan yang juga menyarankan agar ibu hamil mulai melakukan komunikasi dengan janin yang dikandungnya ketika usa kandungannya menginjak minggu ke-12 hingga ke-24. Kemudian, ibu dapat terus melanjutkan komunikasi tersebut hingga bayi dalam kandungan berada di minggu ke-24 hingga ke-40.

Dengan menjalin komunikasi yang tepat, janin akan lebih mudah menerima apa yang Anda katakan kepadanya. Hal ini terjadi lantaran pada usia tersebut, janin sudah menunjukkan adanya respon berupa gerakan-gerakan kecil yang dapat dirasakan oleh Anda.

Dengan demikian, ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas berkomunikasi dengan janin sejak dalam kandungan, baik bagi si janin maupun Anda sendiri.

Bagi janin, komunikasi yang terjalin akan menciptakan kedalaman hubungan emosional antara ibu dengan janin. Dari sini, janin akan merasa nyaman dan tenang di dalam kandungan dengan mendengarkan suara-suara ibunya, serta merasakan sentuhan kasih sayang dan emosi ibunya. Hal ini akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakternya saat ia lahir nanti.

Sebagai contoh, ibu yang selalu cemas akan melahirkan anak yang sering cemas pula. Sedangkan ibu yang bahagia, emosinya stabil, dan sering bercerita untuk janinnya akan melahirkan anak dengan emosi yang juga lebih stabil dan mudah diasuh.

Sedangkan bagi sang ibu, melalui komunikasi yang dilakukan sejak janin masih berada dalam kandungan, ia dapat belajar untuk mengasihi anaknya dengan tulus.menerima apa adanya, bahkan sejak sebelum terbentuk menjadi individu yang utuh.

Hal ini penting dilakukan agar ibu tidak mengalami perasaan sedih apalagi sampai mengalami depresi pasca melahirkan.

Selain itu, Anda juga diajarkan untuk peka terhadap kebutuhan janin, seperti ketika ia bergerak-gerak, melonjak, atau menendang-nendang. Kelak setelah bayi Anda lahir, hubungan antara Anda dan anak akan terlihat lebih dekat dan intim. Ibu pun akan memiliki kepekaan atau naluri keibuan yang lebih mendalam pada apa yang terjadi dengan anak-anaknya kelak.


Cara Berbicara dan Berkomunikasi Dengan Janin di Dalam Kandungan

Untuk melakukan komunikasi dengan janin di dalam rahim sangatlah mudah. Anda dapat mecoba cara-cara berikut:
  1. Sapa janin Anda setiap bangun tidur. Seperti layaknya anak-anak yang sudah lahir, janin yang masih ada di dalam rahim juga manusia yang mempunyai hak untuk dihargai dan diakui keberadaannya. Jadi, sapalah janin Anda dengan nama atau panggilan sayang yang sudah Anda persiapkan untuknya. Misalnya: "Selamat pagi sayang? Ibu sayang kamu. Bagaimana tidurmu selamam? Kalau nyaman boleh tendang perut ibu ya sayang...", dan sebagainya.
  2. Selain itu, Anda harus mengajak janin berbicara setiap kali melakukan aktivitas. Hal ini tidak lain untuk menjadikan hari-harinya menjadi lebih bahagia dan ia bisa belajar lebih banyak tentang lingkungan di sekitarnya yang belum dapat ia lihat.
  3. Ketika janin sedang menendang perut Anda, sebaiknya berikan respon sambil menyentuh atau mengelus perut Anda dan katakan, "Ya Sayang...ibu di sini...".
  4. Komunikasi dengan janin tidak hanya melalui suara, tapi juga dari sentuhan dan gerakan ibu. Untuk itu, sering-seringlah mengusap perut Anda dengan lembut sambil memberikan kata-kata positif kepadanya. Lakukan seakan-akan Anda bisa memeluknya walau ia masih berada dalam rahim Anda.
  5. Untuk para suami, sering-seringlah mencium perut istri Anda yang sedang hamil dan berkomunikasilah dengan calon buah hati Anda. Hal ini penting untuk dilakukan agar janin mengetahui bahwa ia tidak hanya memiliki seorang ibu tapi juga ayah.
Manfaat Berbicara Pada Janin Sejak Dalam Kandungan

Seiring dengan bertambahnya usia janin, komunikasi perlu lebih sering dilakukan. Ketika janin mulai dapat mendengar dan mulai melakukan gerakan secara aktif, Anda hendaknya dapat sering-sering mengajaknya mengobrol.

Meski komunikasi yang dilakukan bersifat satu arah, namun janin sudah mampu mendengar suara-suara dari luar, termasuk suara orangtuanya. Janin juga dapat merasakan ketenangan ketika ibunya membelai-belai lembut perutnya.

Walaupun dalam melaksanakan komunikasi dengan janin ini memang tidak ada pedomannya, namun idealnya dilakukan beberapa kali dalam sehari. Pelaksanaannya kira-kira sama seperti orang tua yang mengobrol dengan anak-anaknya.

Artinya, tidak ada jadwal atau hitungan waktu tertentu sehingga Anda bisa melakukannya kapan pun. Kapan pun Anda ingin berbicara dengan janin dalam kandungan Anda, lakukanlah.

Hal Yang Harus Diperhatikan Ketika Mengajak Janin Berbicara

Ketika berkomunikasi dengan janin, setidaknya ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan oleh ayah dan ibu, yaitu:
  1. Hindari menggunakan kata-kata negatif. Kata-kata yang bersifat negatif seperti "jangan" atau "tidak", sebaiknya tidak digunakan dalam berkomunikasi dengan janin, sebab janin belum memiliki pikiran sadar, ia belum mampu memahami kalimat yang disampaikan oleh orang tuanya secara utuh. Saat Anda mengatakan "Nak, nanti kamu jangan jadi anak nakal ya", maka yang ditangkap oleh janin besar kemungkinan hanya kata "nakal". Akibatnya, setelah lahir dan tumbuh besar, ia bisa tumbuh dengan perasaan negatif tentang dirinya. Oleh karena itu, hati-hatilah dalam berkomunikasi dan gunakanlan kata-kata yang mengandung hal-hal positif, misalnya, "Nak, nanti setelah besar kamu akan menjadi anak yang baik,penurut dan sayang orang tua".
  2. Jaga kestabilan emosi ibu. Janin juga dapat merasakan segala bentuk emosi, baik emosi positif maupun negatif yang dirasakan oleh ibunya. Oleh karena itu, Anda perlu menjaga kestabilan emosi dan selalu berbahagia dalam menjalani kehamilan Anda. Sedangkan peran suami adalah bertugas untuk membantu istrinya menetralkan suasana hatinya serta menjaganya tetap bahagia dan tidak stress. Dengan demikian, Anda perlu berhati-hati dan menjaga kestabilan emosi Anda. Sebab, apapun emosi yang dirasakan oleh sang ibu dapat dirasakan pula oleh janin di dalam kandungan. Apalagi, kelak, hal ini juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan sosial emosi anak.
  3. Ibu harus peka terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan janin. Umumnya,janin yang memasuki usia 4-6 bulan sudah bisa merespons segala bentuk komunikasi yang dilakukan orang tuanya melalui gerakan. Ada janin yang menendang-nendang ketika ibunya mengajaknya berbicara. Inilah bentuk emosi bahagia yang dirasakan si janin. Jika ini terjadi, ibu dapat lebih sering berbicara dengannya. Dengan demikian, janin pun akan semakin merasa nyaman dan bahagia. Namun, ada pula waktu dimana tiba-tiba ibu merasakan perutnya sangat sakit ketika berada di tengah keramaian dengan suara gaduh di sekitarnya. Hal ini menunjukkan si janin berupaya menyampaikan bahwa ia tidak merasa nyaman dengan suasana yang ada di sekitar ibunya. Oleh karena itu, sebaiknya Anda langsung menghindari lingkungan tersebut jika memang janin tidak menginginkannya.
Selain itu, calon orang tua juga memahami bahwa janin belum memiliki pikiran sadar. Ia belum mampu melakukan filter terhadap apa yang didengar dan dirasakannya.

Semua bentuk sentuhan, suara, cahaya ataupun emosi yang diterimanya, ia serap secara utuh dan langsung disimpannya di dalam pikirannya. Setelah lahir, pengalaman-pengalaman tersebut akan tersimpan di pikiran bawah sadarnya.

Oleh karena itu, orang tua harus selalu berhati-hati terhadap segala bentuk suara, sentuhan, maupun emosi yang bersifat negatif. Janin akan merasakan sakit jika ibunya mengalami kesakitan fisik. Janin pun akan terganggu jika mendengar suara-suara gaduh dari luar.

Itulah mengapa para ahli lebih menyarankan janin diperdengarkan musik klasik atau lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dibanding musik lainnya, agar janin menjadi lebih tenang dan nyaman.

Kalau Anda senang membaca buku bagus tentang perawatan kesehatan ibu hamil dan janin, simak ulasan kami mengenai buku Panduan Lengkap Untuk Ibu Hamil.

Semoga Anda dan bayi Anda sehat selalu!



Centang kotak "Also post on Facebook" sebelum Anda meninggalkan komentar. Terima kasih.