Buku Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil

Apa Itu Yang Dimaksud Endometriosis?

Apa itu endometriosis? Apa penyebab endometriosis? Bagaimana gejala endometriosis? Bagaimana menangani endometriosis? -

Endometriosis adalah penyakit kronis menyakitkan yang menjangkiti jutaan wanita di seluruh dunia.

Penyakit ini terjadi ketika jaringan yang normalnya terdapat di dalam rahim (jaringan yang disebut endometrium), malah tumbuh di luar rahim - biasanya tumbuh di ovarium, tuba fallopi, di luar rahim, usus besar atau organ tubuh lainnya.

Endometrium juga kadang ditemukan tumbuh pada kandung kemih, usus, vagina, leher rahim, vulva, dan bekas luka setelah bedah perut.

Sangat jarang tumbuh pada paru-paru, lengan, paha, dan lokasi lainnya.

Apa Itu Yang Dimaksud Endometriosis?


Jaringan yang salah tumbuh ini berkembang dan merespon siklus menstruasi Anda, sama halnya dengan jaringan normal lainnya di dalam rahim: setiap bulan jaringan ini juga tumbuh, kemudian rusak, lalu dibuang.

Darah menstruasi keluar dari dalam rahim dan dibuang oleh tubuh melalui vagina. Tetapi darah dan jaringan rusak hasil dari pertumbuhan endometrium, tidak punya jalan keluar untuk meninggalkan tubuh.

Hal tersebut menyebabkan perdarahan dan peradangan, sehingga menimbulkan rasa sakit, infertilitas (ketidaksuburan), pembentukan jaringan parut, adhesi dan masalah usus lainnya.

Buku yang direkomendasikan untuk tema ini adalah Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil karya dr. Rosdiana Ramli, SpOG.


Siapa saja penderita Endometriosis?

Endometriosis dapat terjadi pada setiap wanita yang masih berada pada usia reproduksinya. Prevalensi yang pasti dari endometriosis belum diketahui, sebab banyak wanita yang mungkin menderita endometriosis, namun tidak mengalami gejalanya.

Penyakit ini adalah salah satu penyebab utama nyeri panggul dan menjadi alasan nomor satu bagi dilakukannya prosedur operasi laparoskopi dan histerektomi.

Dr. Rosdiana Ramli memperkirakan ada sekitar 20% sampai 50% wanita yang sedang menjalani perawatan kesuburan menderita endometriosis, dan hingga 80% wanita yang mengalami nyeri panggul kronis mungkin juga menderita endometriosis.

Meskipun sebagian besar kasus endometriosis yang berhasil didiagnosis terjadi pada wanita berusia sekitar 25 sampai 35 tahun, endometriosis juga telah dilaporkan terjadi pada gadis-gadis yang berusia sekitar 11 tahun.
Endometriosis jarang terjadi pada wanita pascamenopause.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa endometriosis paling banyak terjadi pada wanita tinggi, kurus dengan indeks massa tubuh (Body Mass Index = BMI) rendah.

Menunda kehamilan, belum pernah melahirkan, terlalu cepat menstruasi pertama dan menopause terlambat, juga meningkatkan resiko endometriosis.


Gejala Endometriosis

Gejala utama dari endometriosis adalah nyeri panggul, seringkali bersamaan dengan datangnya periode menstruasi.

Meskipun rata-rata wanita mengalami kram selama periode menstruasi, pasien endometriosis menggambarkan nyeri haid yang jauh lebih parah dari biasanya. Pasien juga melaporkan bahwa rasa sakit semakin lama semakin parah.

Tanda-tanda dan gejala endometriosis antara lain:

  • Menstruasi yang menyakitkan. Nyeri dan kram pada panggul yang dimulai sebelum menstruasi dan semakin parah menjelang haid. Nyeri ini juga mungkin terjadi pada punggung bagian bawah dan perut.
  • Nyeri saat berhubungan intim. Nyeri selama atau setelah berhubungan intim lazim dialami pasien endometriosis.
  • Nyeri saat buang air besar atau buang air kecil. Pasien kemungkinan besar mengalami sakit saat buang air besar dan/atau buang air kecil pada selama periode menstruasi.
  • Pendarahan yang berlebihan. Anda mungkin mengalami pendarahan menstruasi yang berat sesekali (menorrhagia) atau pendarahan di antara periode periode menstruasi (menometrorrhagia).
  • Infertilitas (ketidaksuburan). Endometriosis seringkali pertama kali terdiagnosis pada wanita yang awalnya adalah pasien perawatan infertilitas.
  • Gejala lain. Gejala lain yang mungkin dialami pasien antara lain kelelahan, diare, sembelit, kembung atau mual, terutama selama periode menstruasi.
Tingkat keparahan rasa sakit bukan merupakan indikator yang dapat diandalkan mengenai kondisi endometriosis yang berkembang.

Beberapa wanita yang menderita endometriosis ringan merasakan sakit yang parah, sementara pasien lain dengan endometriosis yang parah, bisa jadi hanya merasakan sakit ringan atau bahkan tidak merasa sakit sama sekali.


Penyebab Endometriosis

Meskipun penyebab pasti dari endometriosis belum diketahui, berikut ini ada beberapa penjelasan memungkinkan mengenai penyebab endometriosis:
  • Menstruasi retrograde. Ini adalah penjelasan yang paling masuk akal sebagai penyebab endometriosis. Pada menstruasi retrograde, darah menstruasi yang mengandung sel-sel endometrium mengalir balik melalui saluran tuba dan ke rongga panggul, bukannya keluar dari tubuh. Sel-sel endometrium ini menempel pada dinding panggul dan pada permukaan organ panggul, dimana sel tersebut tumbuh dan terus bertambah tebal dan berdarah setiap siklus menstruasi.
  • Pertumbuhan sel embrio. Sel-sel yang melapisi rongga perut dan panggul berasal dari sel embrio. Ketika satu atau lebih sel ini berubah menjadi jaringan endometrium, endometriosis kemungkinan akan berkembang.
  • Implantasi bekas luka operasi. Setelah operasi, seperti histerektomi atau operasi caesar, sel endometrium dapat melekat pada bekas sayatan bedah.
  • Transportasi sel endometrium. Pembuluh darah atau jaringan limfatik pada tubuh bisa mengangkut sel endometrium ke bagian lain dari tubuh pasien.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh. Ada kemungkinan ada masalah pada sistem kekebalan tubuh yang membuat tubuh tidak mampu mengenali dan menghancurkan jaringan endometrium yang tumbuh di luar rahim.

Faktor resiko Endometriosis

Beberapa faktor yang dapat menempatkan Anda pada resiko menderita terkena endometriosis, antara lain:
  • Pernah melahirkan.
  • Adanya satu atau lebih kerabat (ibu, bibi atau saudara perempuan) penderita endometriosis.
  • Kondisi medis yang mencegah aliran menstruasi keluar dari tubuh.
  • Riwayat infeksi panggul.
  • Kelainan pada rahim.
Endometriosis biasanya berkembang beberapa tahun setelah menstruasi pertama (menarche). Tanda dan gejala endometriosis berakhir sementara pada saat kehamilan dan berakhir secara permanen ketika memasuki masa menopause, kecuali Anda mengkonsumsi suplemen hormon estrogen.


Komplikasi dari Endometriosis

Endometriosis dapat membawa komplikasi lain,yaitu:

1. Infertilitas (ketidaksuburan)
Komplikasi utama dari endometriosis adalah terganggunya kesuburan. Sekitar sepertiga sampai setengah dari wanita yang menderita endometriosis mengalami kesulitan untuk hamil.

Agar kehamilan bisa terjadi, sel telur harus dilepaskan dari ovarium, melakukan perjalanan melalui tuba fallopi, dibuahi oleh sel sperma dan menempelkan dirinya ke dinding rahim untuk memulai pertumbuhan embrio. Endometriosis dapat menyumbat tuba fallopi dan menghalangi pembuahan. Endometriosis juga mempengaruhi kesuburan secara tidak langsung, yaitu dengan merusak sel telur.

Meski begitu, banyak wanita pasien endometriosis ringan sampai sedang masih bisa hamil dan bersalin. Dokter Rosdiana Ramli menyarankan pasien endometriosis tidak menunda hamil karena kondisi endometriosis dapat memburuk seiring waktu.

2. Kanker ovarium
Resiko kanker ovarium lebih besar terjadi pada pasien endometriosis. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa meskipun endometriosis dapat menjadi penyebab kanker ovarium, persentasenya masih relatif rendah.


Tes dan Diagnosis Endometriosis

Untuk mendiagnosa endometriosis dan kondisi lain yang dapat menyebabkan nyeri panggul, dokter akan meminta Anda untuk menjelaskan gejala yang Anda rasakan, termasuk lokasi rasa sakit dan kapan rasa sakit itu terjadi.

Tes untuk memeriksa petunjuk fisik endometriosis, antara lain:
  • Pemeriksaan panggul. Selama pemeriksaan panggul, dokter Anda secara manual akan memeriksa (palpates) daerah di panggul Anda untuk menemukan kelainan, seperti kista pada organ reproduksi atau bekas luka di rahim Anda. Seringkali tidak memungkinkan untuk merasakan adanya endometriosis, kecuali apabila telah membentuk kista.
  • USG. Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk membuat gambaran bagian dalam tubuh Anda. Untuk menangkap gambar, perangkat yang disebut transducer ditempelkan pada kulit perut atau dimasukkan ke dalam vagina Anda (USG transvaginal). Kedua jenis USG ini dapat dilakukan untuk mendapatkan gambaran terbaik dari organ reproduksi Anda. USG tidak secara definitif dapat menunjukkan pada dokter Anda apakah Anda membawa endometriosis, tetapi dapat mengidentifikasi adanya kista yang terkait dengan endometriosis (endometrioma).
  • Laparoskopi. Tes ini biasanya dilakukan terlebih dulu. Tapi untuk memastikan Anda membawa endometriosis, dokter Anda dapat merujuk Anda ke ahli bedah untuk melihat ke dalam perut Anda dan memeriksa adanya tanda-tanda endometriosis menggunakan prosedur pembedahan yang disebut sebagai laparoskopi. Anda akan dibius umum dan dokter bedah membuat sayatan kecil di dekat pusar Anda serta memasukkan instrumen untuk melihat organ dalam (laparoskopi) untuk mencari jaringan endometrium yang mungkin berkembang di luar rahim. Laparoskopi dapat memberikan informasi tentang lokasi, luas dan ukuran implan endometrium untuk membantu menentukan pilihan pengobatan terbaik.

Penanganan dan pengobatan Endometriosis

Pengobatan untuk mengatasi endometriosis biasanya dilakukan dengan obat-obatan atau operasi. Apapun yang Anda dan dokter Anda pilih, akan bergantung pada tingkat keparahan gejala dan apakah Anda ingin untuk bisa hamil atau tidak.

Umumnya, dokter menyarankan untuk mencoba pengobatan konservatif dan operasi hanya sebagai pilihan terakhir.

1. Obat

Dokter mungkin menyarankan Anda untuk mengkonsumsi pereda nyeri, seperti obat anti-inflamasi, ibuprofen, atau naproxen untuk membantu meringankan kram menstruasi yang menyakitkan.

Namun, jika Anda tidak merasa ini banyak membantu, Anda mungkin perlu mencoba pendekatan lain untuk mengatasi gejala yang Anda rasakan.


2. Terapi hormon

Hormon tambahan kadang-kadang efektif dalam mengurangi atau menghilangkan rasa sakit akibat endometriosis. Itu karena naik turunnya hormon selama siklus menstruasi menyebabkan implan endometrium menebal, pecah dan berdarah. Obat hormonal dapat memperlambat pertumbuhan dan mencegah implan baru jaringan endometrium.

Namun, terapi hormonal tidak menyembuhkan endometriosis secara permanen. Ada kemungkinan bahwa gejalanya masih akan kambuh gejala setelah menghentikan pengobatan.

Terapi hormonal yang digunakan untuk mengobati endometriosis, antara lain:
  • Kontrasepsi hormonal. Pil KB dan cincin vagina dapat membantu mengontrol hormon yang bertanggung jawab untuk terjadinya penumpukan jaringan endometrium setiap bulan. Kebanyakan wanita mendapatkan menstruasi yang lebih ringan dan lebih pendek ketika mereka menggunakan kontrasepsi hormonal. Menggunakan kontrasepsi hormonal dapat mengurangi atau menghilangkan rasa sakit ringan sampai sedang akibat endometriosis.
  • Gonadotropin-releasing hormone (Gn-RH) agonis dan antagonis. Obat ini memblokir produksi hormon yang merangsang ovarium, menurunkan kadar estrogen dan mencegah menstruasi. Hal ini menyebabkan jaringan endometrium menyusut. Karena obat-obatan ini membuat kondisi menopause buatan, disarankan untuk mengkonsumsi estrogen atau progestin dalam dosis rendah bersama dengan Gn-RH agonis dan antagonis untuk menurunkan efek samping menopause, seperti kekeringan vagina dan keropos tulang. Menstruasi Anda dan kemampuan untuk hamil akan kembali apabila pengobatan dihentikan.
  • Medroxyprogesterone (Depo-Provera). Obat suntik ini efektif dalam menghentikan menstruasi dan pertumbuhan implan endometrium, sehingga menghilangkan tanda-tanda dan gejala endometriosis. Efek samping dari obat suntik ini antara lain penambahan berat badan, penurunan produksi tulang dan perasaan depresi.
  • Danazol. Obat ini menekan pertumbuhan endometrium dengan menghalangi produksi hormon yang merangsang ovarium, mencegah menstruasi dan gejala endometriosis. Namun, danazol mungkin bukan menjadi pilihan pertama karena dapat menyebabkan efek samping yang serius dan dapat membahayakan bayi jika Anda hamil saat mengkonsumsi obat ini.

3. Pembedahan konservatif

Jika Anda menderita endometriosis namun ingin hamil, operasi untuk mengangkat sebanyak mungkin sel endometriosis dengan tetap menjaga kesehatan rahim dan ovarium Anda (pembedahan konservatif) dapat memperbesar peluang keberhasilan Anda.

Jika Anda merasakan rasa sakit yang parah akibat endometriosis, operasi ini juga akan menghilangkan gejala sakit tersebut, namun endometriosis dan rasa nyeri dapat kembali lagi suatu saat.

Dokter Anda mungkin akan melakukan prosedur bedah ini secara laparoskopi atau melalui pembedahan perut tradisional.

Dalam operasi laparoskopi, dokter bedah Anda menyisipkan instrumen kecil (laparoskop) melalui sayatan di dekat pusar Anda dan memasukkan instrumen lain untuk menghilangkan jaringan endometrium melalui sayatan kecil lainnya.


4. Histerektomi

Dalam kasus yang endometriosis parah, operasi untuk mengangkat rahim dan leher rahim (histerektomi total) serta kedua ovarium mungkin merupakan pengobatan terbaik.

Histerektomi biasa tidak begitu efektif, sebab estrogen yang dihasilkan oleh ovarium Anda dapat merangsang sel endometriosis yang tersisa dan menyebabkan rasa sakit tidak benar-benar hilang.

Histerektomi total biasanya dianggap sebagai pilihan terakhir, terutama bagi perempuan yang masih berada di usia reproduksi mereka. Anda tidak bisa hamil setelah histerektomi.

Kalau Anda atau pasangan Anda senang membaca buku bagus seputar tips cara memaksimalkan kesuburan pria dan wanita pada berbagai tingkatan usia, simak ulasan kami mengenai buku laris Panduan Cara Cepat Hamil.

Semoga Anda sehat selalu!



Centang kotak "Also post on Facebook" sebelum Anda meninggalkan komentar. Terima kasih.