Buku Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil

Pengaruh Usia Tua Terhadap Kesuburan Pria

Tips program hamil untuk pasangan beda usia, terutama apabila pasangan pria jauh lebih tua -

Pria dapat terus membuahi dan menjadi ayah dalam usia 50-an, 60-an dan 70-an. Tapi apa dampaknya bagi pria apabila mereka terlambat menjadi ayah?

Buku yang direkomendasikan untuk tema ini adalah Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil karya dr. Rosdiana Ramli, SpOG.

Pengaruh Usia Tua Terhadap Kesuburan Pria

Apakah usia pria mempengaruhi kesuburannya?

Ya, usia pria berpengaruh terhadap kesuburannya.

Pria juga memiliki jam biologis dalam hal kesuburan, sama halnya wanita. Walaupun pria yang berusia 70-an atau bahkan 80-an masih bisa menjadi seorang ayah, namun pria pada usia ini akan butuh waktu lebih lama untuk dapat membuahi istrinya. Bisa tahunan.

Semakin tua seorang pria, umumnya semakin lama waktu yang dibutuhkannya untuk dapat membuahi pasangannya.

Peluang pembuahan yang sukses yang terjadi setelah lebih dari satu tahun mencoba, terjadi pada kira-kira:
  • Sekitar 8 persen pada pria berusia di bawah 25 tahun.
  • Sekitar 15 persen pada pria berusia lebih dari 35 tahun.
Selisih perbedaan usia antara pria dan wanita juga dapat berpengaruh.

Jika pria setidaknya berusia lima tahun lebih tua dari wanita, peluang untuk hamil dalam waktu satu tahun lebih kecil dibanding jika pasangan prianya berada dalam usia yang sama. Hal yang sama juga berlaku apabila wanitanya yang lebih tua.


Perbedaan jam biologis pria dan wanita

Ada perbedaan yang jelas antara pria dan wanita.

Tingkat estrogen seorang wanita menurun drastis setelah ia mencapai usia tertentu dan itu tidak dapat diubah. Perubahan tingkat hormon pria tidak terlihat dan tidak terjadi secara drastis, melainkan bertahap.

Perbedaan utama lainnya adalah, semua wanita pada akhirnya mencapai menopause dan berhenti memproduksi sel telur. Sebaliknya, seorang pria dapat menghasilkan sperma sepanjang hidupnya.


Persamaan jam biologis pria dan wanita

Ketika wanita bertambah tua, tubuh mereka menghasilkan lebih sedikit estrogen. Ini berarti meningkatkan risiko memiliki bayi dengan masalah kromosom.

Demikian pula ketika seorang pria bertambah tua, mereka juga mengalami penurunan testosteron, dan oleh karenanya kesuburan pun berkurang. Hal ini juga menciptakan resiko yang lebih tinggi untuk menjadi ayah bagi anak-anak yang mengalami masalah kromosom.
Jadi, walaupun seorang pria tetap bisa memproduksi sperma dalam usia tua, tidak berarti bahwa spermanya berkualitas tinggi.
Perubahan kadar hormon dapat mempengaruhi gairah, fungsi seksual dan kualitas sperma pria. Seiring seorang pria bertambah tua, kualitas dan volume air mani menurun.

Pria yang lebih tua memproduksi sperma yang lebih sedikit dan lebih lambat. Ini menyebabkan sperma menjadi lebih sulit untuk mencapai sel telur dan melakukan pembuahan.

Bentuk (morfologi) sperma juga menurun kualitasnya. Bentuk ini penting karena memberikan indikasi konten genetik sperma. Jumlah sperma cacat yang banyak berarti memperbesar peluang terjadinya komplikasi.
Sperma yang cacat juga kurang memiliki kemungkinan untuk membuahi sel telur.


Adakah pengaruh usia pria terhadap masalah genetik?

Sangat jarang masalah genetik berhubungan dengan pihak ayah, baik yang muda maupun yang lebih tua. Namun, ada kondisi tertentu yang bisa jadi merupakan pengaruh dari usia sang ayah, antara lain:
  • Pertumbuhan anak terhambat/terhenti (achondroplasia) atau dwarfisme. Achondroplasia sangat jarang. Ini terjadi sekitar satu dari 10.000 kelahiran.
  • Down syndrome, suatu kondisi genetik yang menyebabkan kesulitan belajar dan beberapa masalah kesehatan lainnya.
  • Skizofrenia, masalah kesehatan mental jangka panjang.
Tidak semua ahli sepakat mengenai pengaruh usia ayah terhadap kondisi diatas. Ada kemungkinan bahwa terdapat faktor selain usia sang ayah.

Misalnya, termasuk riwayat penyakit tersebut dalam keluarga, gaya hidup dan faktor sosial, seperti penyalahgunaan obat-obatan, stress dan depresi akibat faktor tekanan lingkungan dan teman-teman.

Diketahui bahwa usia ibulah yang merupakan faktor risiko yang lebih besar untuk terjadinya down syndrome, tetapi masih ada perdebatan mengenai relevansinya dengan usia sang ayah.
Secara keseluruhan, ditemukan bahwa resiko tertinggi terjadinya down syndrome adalah ketika kedua orang tua berusia lebih dari 35 tahun.

Mengapa masalah genetik lebih umum terjadi seiring bertambahnya usia?

Baik pria muda dan tua sebenarnya memiliki sperma yang rusak atau tidak sehat, tetapi biasanya proses alami yang disebut apoptosis akan menyingkirkan sperma rusak tersebut.
Namun, efisiensi apoptosis berkurang seiring bertambahnya usia pria.
Ini berarti bahwa persentase jumlah sperma rusak yang terdapat dalam air mani pria berusia diatas 35 tahun, lebih banyak dibanding pria yang lebih muda.

Wanita yang berusia 35 tahun atau kurang memiliki mekanisme pertahanan dalam sel telur mereka yang bisa memperbaiki DNA sperma yang rusak. Namun, mekanisme pengaman ini mulai kurang berfungsi setelah usiawanita menginjak 35 tahun. Itu sebabnya beberapa resiko kelainan genetik lebih berpeluang terjadi apabila kedua pasangan berusia diatas 35 tahun.

Resiko keguguran, yang mana sangat sering terjadi disebabkan oleh kelainan genetik, berpeluang besar terjadi apabila sang calon ibu juga berusia diatas 35 tahun.


Apakah berat badan mempengaruhi kesuburan pria?

Ya, pria yang kelebihan berat badan beresiko lebih tinggi mengalami masalah kesuburan.
Menjadi obesitas dapat mengurangi kuantitas dan kualitas sperma pria.
Hal ini juga berarti bahwa Anda lebih beresiko untuk mengalami masalah kesehatan, seperti penyakit jantung dan diabetes, yang mana dapat mempengaruhi kemampuan pria untuk ereksi.

Penambahan empat atau lima poin BMI (Body Mass Index = indeks massa tubuh) pada seorang pria dapat membuat usia kadar testosteronnya menjadi 10 tahun lebih tua.

Ukuran pinggang 102 cm (40in) atau lebih juga merupakan faktor resiko penyakit jantung pada pria. Penyakit jantung memperlambat aliran darah di seluruh bagian tubuh, termasuk penis.

Diabetes adalah gangguan medis lain yang berkaitan dengan berat badan pria, dan secara umum ini terjadi pada pria yang lebih tua.
Diabetes dapat mengganggu libido dan mengurangi kualitas sperma.

Bisakah pria yang lebih tua mengembalikan atau memperbaiki kesuburannya?

Kabar baiknya, ada banyak hal yang dapat dilakukan seorang pria untuk menjaga kesuburan dan fungsi seksualnya agar tetap prima.

Makan makanan sehat adalah awal yang baik. Beberapa masalah kesuburan yang terkait dengan obesitas mungkin bisa disembuhkan. Menurunkan berat badan dapat meningkatkan jumlah sperma.

Perubahan gaya hidup dapat meningkatkan kesuburan juga. Sebelum memulai program hamil, sebaiknya melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi dan menyembuhkan berbagai kondisi kesehatan yang mungkin dapat mengganggu kesuksesan program hamil Anda.

Penyebab kemandulan pria hampir selalu lebih mudah untuk diidentifikasi dan diperbaiki daripada masalah yang sama pada wanita.

Sebagian besar masalah yang umum terjadi juga lebih cenderung dialami oleh pria yang lebih tua. Antara lain:
  • Rendahnya jumlah sperma.
  • Tersumbatnya saluran ejakulasi.
  • Infeksi pada testis.
  • Disfungsi ereksi.
Jika pasangan sulit hamil, sama pentingnya bagi pria dan wanita untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan kesuburan sebelum memulai program hamil.

Akhirnya, walaupun secara umum pria mengalami penurunan kesuburan secara bertahap seiring pertambahan usia, sebagian besar pria pada umumnya masih akan tetap bisa membuahi hingga usia 60 tahunan dan seterusnya.

Kalau Anda dan pasangan Anda membutuhkan panduan lengkap strategi cepat hamil dan cara memaksimalkan kesuburan pada berbagai tingkatan usia, simak review kami mengenai buku laris Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil karya dr. Rosdiana Ramli, SpOG.

Semoga Anda sehat selalu!



Centang kotak "Also post on Facebook" sebelum Anda meninggalkan komentar. Terima kasih.